ninar.
Minggu, 19 Mei 2013
Minggu, 09 September 2012
Senin, 20 Juni 2011
field note pertama ^^
LAPORAN
PENELITIAN (FIELD NOTE)
PANDANGAN
MASYARAKAT PULAU KODINGARENG TERHADAP PEMANFAATAN AIR GALON
PENDAHULUAN
Awal
keberangkatan,
Pagi
menjelang siang saya tiba di dermaga kayu bangkoa pukul 09.11 saya mengira,
saya akan telat karena telah diberitahukan harus berada di dermaga pukul 9
pagi. Insiden kesasar bersama tukang ojek pagi itu membuat saya panik. Sesampai
di dermaga dengan perasaan panik yang belum reda, terlihat rombongan masih
duduk santai. “ah.. syukur
alhamdulillah” ucapku didalam hati
Kami semua menunggu sampai semua
barang dinaikkan di kapal. Terlihat ada sekitar 4 kapal yang bersandar di dermaga. Dermaga
kelihatan begitu ramai, tampak lalu lalang pria – pria pendorong gerobak
membawa air galon kemasan dan beberapa barang berkardus. Sembari menunggu kapal akan berangkat,
beberapa orang dari rombongan kami duduk di pinggir jalan terlihat gaduh.
Tumpahan air galon mengenai mereka. Untungnya tumpahan galon tak sampai
mengenai barang – barang kami.
Sekitar
satu jam kami menunggu kapal, kapal tak kunjung berangkat. Kapal belum
berangkat perasaan sudah terasa ingin mual. Selang beberapa menit kamipun
dipersilahkan untuk naik ke kapal. Tapi, tak lama kemudian kami disuruh untuk
turun lagi dari kapal. Kami melupakan sesuatu yang penting. Kami melupakan
ritual yang sering kami lakukan sebelum berangkat.
Bersama-sama
kami membaca doa yang dipimpin oleh kak Yuli. Setelah berdoa kami semua para
peserta diharapkan selama di pulau mendengarkan semua apa yang dikatakan panitia.
Dengan semangat kami kami siap berangkat. Doa sering kali mengubah suasana
hati. Tadinya perasaan tidak nyaman, rasa ingin mual dan sakit kepala jadi
hilang.
Pukul
11.15 kapal kami berangkat meninggalkan dermaga. Kapal kami diapit oleh dua
kapal, kapal sebelah kanan tak jauh beda dengan kapal yang kami tumpangi. Kapal
sebelah kanan ditumpangi oleh beberapa penumpang dan mengangkut banyak air
galon kemasan. Sedangkan kapal sebelah kiri juga ditumpangi oleh beberapa
penumpang. Kapal sebelah kiri terlihat lebih menarik perhatian. Kapal sebelah
kiri mengangkut beberapa motor baru. 2 motor bebek dan 1 motor matic.
Pukul
11.45 kapal telah berada di tengah laut. Di tengah laut mulai terasa panas di
bawah paparan matahari yang cukup terik. Sepanjang perjalan mata
saya terasa dimanjakan oleh pemandangan laut yang biru. Ditiup angin laut yang
cukup meredakan rasa panas di kulit saya. Saya sangat menikmati perjalanan ini.
Dimana beberapa teman yang lain larut dengan mimpi masing – masing.
Selang beberapa menit berlalu, pulau Samalona
terlihat di sebelah kanan kapal kami. Dari kejauhan pulau Kodingareng juga
sudah menampakkan diri di hadapan kami.
“teman – teman mau mi sampai!!”
teriakku.
“hooaaaaaaaaaaaam”
serentak mereka menguap dengan mata sayuh dan bekaca-kaca.
Sekitar
hampir pukul 1 siang kami sampai ke pulau kodingareng. Inilah tempat yang kami
tunggu – tunggu. Lokasi penelitian peserta LDP-LPMA 2010. Pulau kodingareng nampak begitu luas jauh dari perkiraan
saya. Ini
kali kedua kami angkatan 2010 melakukan penelitian. Sebelumnya kami pernah ke
Puntondo
kab.Takalar melakukan penelitian tentang nelayan rumput laut.
Sesampainya
di pulau ini, saya berharap bisa belajar banyak. Belajar tentang penelitian,
belajar memahami situasi, berhadapan dengan orang baru, diterima oleh
masyarakat setempat dan lain – lain.
Sesampainya dipulau Kodingareng di tuntun ke tempat
paenginapan kami masing – masing. Kelompok 1 & 2 menginap di rumah tante Bimbing dan kelompok
3 & 4 menginap di rumah bu Erna. Setelah menyimpan barang – barang dan
istirahat sejenak. Pukul
03.20 saya, dewi, furqan, angga dan kelompok lain kumpul di aula PKK untuk
melakukan penyuluhan observasi pertama. Sesampainya disana terlihat ketua
himpunan dan ketua LDP-LPMA memulai penyuluhan. Penyuluhan tidak berlangsung
lama. Selang penyuluhan terdengar dari jauh suara adzan berkumandang. Kelompok
kami berinisiatif untuk memulai observasi setelah beberapa peserta menunaikan
sholat ashar.
Perjalanan observasi dimulai. Kami
mulai berjalan bersama – sama dengan peserta lain. Perjalanan kami awali dengan
senyuman, menyapa dan melihat –lihat dengan seksama apa yang menarik selama
perjalanan.
Selama
observasi pengenalan lokasi, kami menyadari bukan hanya kami yang melakukan
observasi ke masyarakat tapi masyarakat juga melakukan observasi kepada
kami. Beberapa dari mereka menatap
dengan sinis dan tak kurang menatap kami dengan hangat dan senyum lebar tampak
di bibir mereka.
Sepanjang
perjalanan saya melihat banyak pedagang keliling dan pedagang asongan yang
rata-rata dilakukan oleh kaum ibu ditemani anak – anak mereka. Ada pedagang somay, kosmetik, sayuran, panci,
kue – kue tradisional, bakso dll.
Terlihat
masyarakat sudah paham akan tugas masing – masing. Sementara para suami pergi
mencari ikan sebagai nelayan. Para istri mencari uang tambahan dengan berjualan
keliling dan asongan. Sore hari sepulang sekolah, para anak membantu ibu mereka
berjualan.
Kebanyakan
jualan yang ditawarkan diperuntukkan
untuk anak – anak. Yang pada dasarnya senang belanja. Sistem jual – beli
yang mereka tawarkan rata – rata secara kredit.
Kembali kami melanjutkan perjalanan kami melihat ada sekitar 10 lebih
rumah yang menjual air galon kemasan. Masyarakat pulau Kodingareng sepertinya
rata – rata mengkonsumsi air minum dari air galon karena terlihat banyaknya
masyarakat yang menjual produk tersebut.
Saya
jadi teringat cerita teman – teman saya sebelum kami berangkat ke pulau ini. Di
dermaga sempat terjadi insiden air galon tumpah mengenai beberapa peserta.
Beberapa dari kami melihat air yang tumpah diisi kembali dengan air dari
jerigen kemudian mereka tutup kembali dengan penutup yang baru. Melihat itu
kami menjadi ragu akan kebersihan air galon tersebut.
Sepanjang
perjalanan saya melewati beberapa mesjid. Yang menarik dari perhatian saya
adalah salah satu mesjid bercat hijau yang berdiri kokoh cukup besar dibanding
bangunan lainnya. Unsur religi sejenak terbesit di pikiran saya untuk menjadi
salah satu penelitian. Tempat ibadah yang cukup banyak dan adanya kegiatan
agama di sore hari tampak membuat masyarakat lebih terlihat religious dengan
gaya berpakaian masyarakat di sekitar mesjid.
Di tengah perjalanan kami terpisah dengan kelompok lain.
Saya, Dewi, Angga dan Furqan bersama – sama melanjutkan perjalanan. Diperjalanan
kami melihat banyak kebiasaan masyarakat yang kebanyakan telah tersentuh oleh
modernisasi. Disana kami melihat ada sekitar 3 tempat penyewaan game PS,
beberapa rumah menempelkan sound system di tiap sisi rumah mereka, dan terakhir
terdapat tempat penyewaan bilyard.
Di perjalanan saya dan yang lain merasa berjalanan sudah
cukup jauh. Kami pun mencari tempat istirahat untuk mengumpulkan cerita masing,
apa yang menarik selama pengamatan. Setelah berembuk kami berinisiatif untuk
kembali ke rumah.
Saya dan yang lain sudah hampir sampai ke rumah, jalan
kami beralih oleh teguran seorang bapak tua. Beliau bertanya “ kalian mahasiswa
dari mana??”
Kami
menjawab “kami dari
mahasiswa unhas pak!” .
Kami
sebenarnya sangat ingin kembali pulang ke rumah tapi
kelihatannya bapak tersebut bisa kami manfaatkan sebagai informan pertama.
Beliau bernama pak Jaka. Menurut beliau usianya sekitar 65 tahun. Harapan saya
dan yang lain perbincangan kami nantinya mendukung data – data yang kami cari.
Beliau sangat senang jika ada mahasiswa berkunjung kepulau Kodingareng. Beliau bercerita banyak tentang pulau
Kodingareng. Sejarah pulau kodingareng mulai dari jaman jepang, belanda dan
tentang Kahar Muzakkar. Waktu beliau berumur 15 tahun pulau pertama bernama
Pa’diktikang kemudian pulau Harapan, pulau Perjuangan dan terakhir pulau
Kodingareng.
Rasa nasionalisme beliau sangat
terlihat ketika menceritakan tentang semua yang terjadi di masa lalu. Singgah
berbincang dengan beliau adalah kesalahan terbesar bagi kami karena kami
kesulitan untuk pamit pulang. Furqan terlihat lebih pintar melihat situasi. Pak
jaka terdiam sejenak, furqan langsung berdiri dan mohon pamit pulang. Satu
persatu dari kami menyalami tangan beliau. Dan akhirnya kami pun pulang.
Sesampainya kami di rumah, kami
langsung istirahat. Secara bergantian kami masuk kamar mandi membersihkan diri.
Setelah kami mandi, tak lama ibu disebelah rumah memanggil kami untuk makan
malam. Rasa capek terasa jadi hilang setelah mandi apalagi kami langsung
disuguhkan makan malam.
Setelah
makan malam kami dipanggil oleh panitia untuk berkumpul kembali ke aula. Kami
harus menentukan tema apa yang akan kami angkat jadi peneletian. Ada banyak
topik dipikiran saya selama
observasi tadi di pulau Kodingareng, mulai dari unsur religi, ekonomi-mata pencaharian dan organisasi sosial. Malam
ini kami memutuskan untuk meneliti tentang air galon namun kami masih bingung
penelitian air galon kami membahas tentang kesehatannya atau ekonominya.
Malam begitu larut, panitia belum juga selesai memberi
kami penyuluhan. Peserta kelihatan sangat ngantuk, terlihat tidak fokus dengan
apa yang dipaparkan panitia.
Raga kami di aula
tapi pikiran kami di rumah dan tempat tidur.
Tema air galon keluar dari mulut kami dengan keadaan setengah sadar.
Kami harap tema malam ini tidak asal – asalan karena kami ingin cepat – cepat
pulang.
HAMBATAN
Ini pengalaman pertama saya
melakukan penelitian dengan bimbingan dan pedoman – pedoman dasar yang cukup
matang. Cukup banyak hambatan selama berada di pulau ini. Observasi pertama
saya sangat bingung untuk mencari kasus yang menarik. Menyatukan ide – ide
dalam kelompok, bagaimana cara diterima
baik oleh masyarakat dan bagaimana bertanya dengan baik tanpa menyinggung
perasaan masyarakat. Semua yang dipikiran saya adalah bagaimana, bagaimana dan
bagaimana. Ini hambatan awal saya, tidak bisa mengendalikan pikiran sendiri.
Hambatan selama penelitian ketika
mewawancarai informan yang berusia sekitar 60 keatas. Informan tidak fokus
dengan apa yang kita sampaikan. Sebagai contoh informan bernama Bu Syahria,
saya bertanya kepada beliau “bu, selama mengkonsumsi air galon tidak ada ji
keluhan?”. Ibu Syahria menjawab “tidak ada ji nak tapi begitu mi kadang sakit
lutut dan persendianku. Kembali saya bertanya “gara – gara air galon itu bu?”.
“tidak” jawab si ibu. Ini saya jadikan pengalaman berharga dalam penelitian
untuk tidak akan mewawancarai informan yang sudah sangat berumur.
Yang juga menjadi hambatan ketika
saya mewawancarai penjual air galon kemasan. Seperti informan saya bu Maryamah
dan bu Darmi. Kami membutuhkan informasi yang jujur dari informan. Kedua
informan saya ini menceritakan semua hal – hal yang baik tentang air galon
walaupun secara langsung salah satu dari mereka membocorkan kalau terkadang
mereka membeli air leden dari kota kemudian mereka masak untuk di konsumsi
sehari –hari. Selama wawancara beliau memberikan saya informasi yang cukup
mengaambang.
Hambatan berikutnya, salah satu
informan yaitu bu Ria seorang bidan di pulau ini menjanjikan hasil uji sampel
beliau tentang air galon di pulau Kodingareng tetapi sampai sekarang beliau tak
menghubungi kami. Uji sampel beliau bisa menjadi bukti pendukung untuk
memperkuat penelitian kami.
Komunikasi yang kurang diantara kelompok kami
juga salah satu hambatan selama penelitian. Sehingga terjadi konflik – konflik
kencil dalam kelompok kami. Saya dan teman yang lain masih sangat baru dalam
hal penelitian jadi kami harap setelah penelitian ini kami bisa belajar banyak
dan tak canggung menghadapi penelitian berikutnya.
SIMPULAN – SIMPULAN SEMENTARA
Air galon kemasan sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk
kebutuhan sehari- hari. Air dari sumur menurut informan tidak cukup nikmat
untuk dikonsumsi. Sejak 3 tahun lalu masyarakat beralih ke air galon. Air galon
berasal dari kota Makassar yang kabersihannya sangat meragukan. Air galon yang
dijual di dermaga harganya sangatlah murah. Air galon yang di kota dijual
seharga Rp.2500. Sedangkan yang di kota biasanya dijual seharga Rp.3000 -
Rp.4000 per galon. Menurut salah satu informan, galon kosong yang dari pulau
tidak ditukar dengan galon yang baru. Galon langsung diisi di dermaga dari air
jergen yang telah disiapkan. Informan ragu akan kebersihan galon dari dermaga
Kayu Bangkoa.
Hasil pengamatan saya cukup mendukung keraguan informan,
hari pertama kami makan bersama disamping rumah bu Erna. Air minum digelas yang
saya minum terdapat cacing kecil berwarna putih. Air yang mereka suguhkan
memang berasal dari air galon. Tadinya saya ragu dengan apa yang saya lihat
tapi di gelas dewi juga seperti itu.
Selama observasi masyarakat pada umumnya mereka
mengetahui hal itu. Masyarakat kenyataannya hanya memikirkan ekonomisnya bukan
manfaat dan dampaknya kelak. Sakit perut dianggap sebagai angin lalu, sakit
perut dianggap suatu hal yang biasa.
Pihak puskeud terkadang memberikan penyuluhan akan
pentingnya memasak air terlebih dahulu tapi masyarakat tidak ingin repot untuk
memasaknya lagi. Masyarakat percaya air galon tidak akan menimbulkan penyakit
yang parah bagi tubuh mereka.
LAPORAN
PENELITIAN (FIELD NOTE) SAAT MELAKUKAN PENGAMATAN:
PANDANGAN
MASYARAKAT PULAU KODINGARENG TERHADAP PEMANFAATAN AIR GALON
LAMPIRAN
Hari
kamis hari ke – 2 penelitian di Pulau Kodingareng, kami ( Furqan, Angga,
Dewi dan saya) mencoba mencari informan yang berhubungan dengan air galon. Kami harap informan pertama kami
adalah penjual air galon. Kami sepakat sebisa mungkin kami
mencari informasi bersama – sama. Kami
punya tugas masing – masing dalam tiap observasi kami. Hari ini kami sebenarnya
belum yakin dengan pengamatan ini. Kami belum menetukan judul yang tepat untuk
pengamatan ini. Tapi, hal tersebut tak lantas membuat kami putus asa.
Pengamatan tentang air galon di pulau Kodingareng tetap kami coba. Sebisa
mungkin saya dan lain mencoba mencari informasi yang banyak sebelum kami
bertemu dengan instruktur kami.
Pengamatan
kami mulai di sekitar penginapan kami. Tak jauh dari Rumah bu Erna ( tuan rumah tempat
tinggal kelompok 3 & 4 ) kami
menemukan salah satu rumah yang depan rumahnya di penuhi beberapa galon kosong.
Kami mendekat kerumah tersebut tapi tak
tak seorang pun terlihat di dalam rumah. Dari pada menunggu, kami pergi
cari informasi dimana keberadaan tuan
rumah. Kami mendapat informasi kalau tuan rumah
dari tadi meninggalkan rumah. Masyarakat sekitar terlihat sangat
biasa
membuka pintu ketika mereka berpergian sejenak dari rumah. Tingkat kriminal di
pulau ini mungkin sangat jarang.
Tak lama kemudian kami kembali ke
rumah yang tadi. Langkah kami sedikit terhambat mana kala seorang anak kecil
buang air besar depan pintu calon informan. Seorang ibu memakai sarung
menghampiri kami dan mengaku kalau beliau adalah tuan rumah yang kami cari. Kami dipersilahkan masuk di rumah
beliau. Dengan menahan napas kami buru-buru masuk ke rumah beliau. Didalam kami
berkenalan terlebih dahulu, beliau bernama bu Darmi salah seorang penjual
galon. Beliau masih lajang yang sekarang tinggal bersama ayahnya. Dulunya ibu
bu Darmi tinggal bersama mereka tapi sekitar 2 atau 1 tahun yang lalu memutuskan
untuk tinggal di kota.
Bu Darmi bisa kita bilang sebagai
informan pertama kami. Selama wawancara kami tak berbicara banyak. Kami
mewancarai tanpa fokus penelitian apa yang kami bawa tapi intinya tentang air
galon. Setelah mewawancarai bu Darmi kami sepakat untuk tidak mencari informan
sebelum kami bertemu instruktur kami. Kami belum tau siapa instruktur kami.
Kami harap instruktur kami nantinya membantu menentukan fokus penelitian yang
cocok buat kami.
Kami
berjalan menuju penginapan, furqan memutuskan untuk istirahat di kamar. saya,
dewi dan angga istirahat minum minuman dingin di penjual depan penginapan.
Sambil minum kami berbincang – bincang dengan ibu penjual minuman. Kami
menanyakan tentang asal – usul air galon sampai ke pulau Kodingareng. Kebanyakan masyarakat disini mongkonsumsi air
apa?. Berapa banyak penjual galon di pulau ini? Dan banyak lagi hal – hal
mengenai air galon. Sambil menunggu jam makan siang kami sengaja berlama – lama
dulu di tempat ini. Tempat ini terasa sejuk dibanding istirahat di rumah.
Menjelang siang tempat penginapan kami udaranya terasa panas.
Tiba
saatnya makan siang, kami makan dengan lahap. Kemarin panitia menjanjikan kalau
setelah makan siang tiap kelompok akan dibagikan instruktur. Makan sudah
selesai kami masuk ke penginapan mengambil perlengkapan. Bersama – sama
kelompok 3 (indah, soejana, ricta, dadank dan ian) kami berjalan menuju aula.
Disana sudah ada panitia menunggu kami. Kak Yudhi dan kak Padly ditunjuk jadi
instruktur kami. Kami dipersilahkan ke instruktur masing segera membahas
tentang penelitian kami. Di teras kami melihat ada kedua instruktur kami sedang
duduk bersama dengan bersama senior yang lain. Kami menunggu mereka sampai
selesai bercerita denagn yang lain. Tak lama mereka menghampiri dan mengajak
kami diskusi di tempat yang menuurut kami nyaman. Di aula tempat yang nyaman
untuk kami berdiskusi. Di Aula kami berembuk judul apa kira – kira yang cocok.
Kita berdiskusi banyak fokus kami mau ke kesehatan atau ekonominya. pendapat
demi pendapat keluar dari mulut kami. “Menurut saya, menurut saya, menurut
saya, menurut saya” kata yang sering keluar dalam diskusi ini. Sampai akhirnya
dengan tegas kak Yudhi menentukan kalau judul yang cocok adalah “Persepsi atau Pandangan Masyarakat Pulau Kodingareng
Terhadap Pemanfaatan Air GAlon”.
OBSERVASI PERTAMA ( KAMIS, 21 JULI
2011)
Sore
hari setelah mendapat instruksi dari kak Yudi dan kak Padly kami segera mencari
informan. Dewi dan saya ke sebelah timur sedangkan Furqan dan Angga mencari
informan di sebelah barat. Dewi dan saya
coba mencari informan yang tinggal di sekitar pesisir pantai. Di hari pertama
saya di Pulau Kodingareng saya diberitahu oleh Bu Erna kalau masyarakat yang
tinggal di sekitar pesisir mempunyai sumber air (sumur) yang payau. Masyarakat
sekitar pesisir kemungkinan besar pengguna air galon. Saya berharap informan
yang saya temui bisa memberikan informasi yang cukup menunjang. Di perjalanan
saya terhenti, terlihat di sebelah kanan ada seorang ibu tua yang sedang duduk
santai di depan rumahnya. Tanpa ragu saya mendekati beliau dan menyapa dengan
lembut “ bu apa kabar? Boleh saya cerita – cerita sebentar?”. Bukannya beliau
menjawab pertanyaan saya tapi beliau malah mengucapkan “ nak, saya sendiri,
sudah lamami meninggal suamiku” jawab si Ibu dengan raut muka yang terlihat
sedih. Saya melihat mata ibu yang sedikit berkaca. Saya sedikit tidak mengerti
dengan ucapan beliau. Ibu tersebut bernama Bu Syahria, menurut beliau umurnya
65 tahun tapi yang saya lihat beliau
berumur 70-an. Bu Syahria sangat mencintai alm. suami
OBSERVASI KEDUA ( JUMAT, 22 JULI
2011)
1.
Di
teras rumah pak Anca :
Pukul
09.30 saya, dewi,furqan
dan angga memulai observasi di tempat yang kemarin sudah kami rencanakan yaitu
tempat penampungan air bersih yang dulunya dimanfaatkan oleh masyarakat pulau
kodingareng sebagai pusat air bersih. Beberapa tahun lalu masyarakat sekitar
mengkonsumsi langsung air tersebut tanpa memasak terlebih dahulu. Salah satu
dari informan mengatakan, konon dulu penampungan ini pernah diteliti oleh salah
satu dokter dari RS Plamonia Makassar yang diutus dari Pemerintah. Dari hasil
penelitian menujukkan bahwa air layak di konsumsi bahkan bisa diminum langsung
karena terdapat kandungan mineral didalam air tersebut. Masyarakat pulau
kodingareng membeli air tersebut Rp. 3.000 per jerigen. Awalnya saya mengira
tempat penampungan air adalah tempat satu-satunya tempat penjualan air galon di
pulau Kodingareng dimana disana dilengkapi dengan mesin air galon kemasan yang kebanyakan
terdapat dikota Makassar. Tapi setelah saya dan teman – teman yang lain ke
lokasi tersebut, kami hanya melihat sebuah bangunan kecil yang disampingnya terdapat
2 buah tangki air yang besar berwarna biru dan satu sumur yang tiap harinya
dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.
Terlihat
disana beberapa ibu-ibu berkumpul disekitar sumur sedang mencuci pakaian. Saya
mencoba mendekati salah seorang ibu yang sedang menimba air ditengah teriknya
matahari dengan muka yang penuh dengan keringat. Mencoba mengaplikasikan
keajaiban senyuman di depan ibu, Senyuman yang lebar dan menyapa beliau dengan
lembut, harapan saya dapat menyenangkan hati ibu yang nantinya dengan leluasa
memberikan banyak informasi buat saya.
Dalam observasi hal – hal kecil jadi saya abaikan demi mendapatkan data
tanpa memperhatikan kondisi informan. Kenyataannya Si ibu menjawab pertanyaan –
pertanyaan dengan setengah hati. Menyadari hal tersebut saya dan teman segera
pamit dan meninggalkan lokasi.
Tanpa
patah arah saya, dewi dan angga melanjutkan observasi kami. Sekitar 5 rumah
kami lewati tak jauh dari lokasi yang tadi. Kami bertemu dengan dengan ibu
berpakaian daster batik beserta jilbab coklat muda menutupi kepalanya dengan
ditemani seorang pria berpakaian sepakbola nasional berwarna merah. Dengan
ramah mereka mengajak kami singgah duduk di halaman rumah mereka.
Hati
yang begitu senang tanpa ragu kami memperkenalkan diri. Pria tersebut bernama
Pak Anca beliau berumur 36 tahun. Satu persatu dari kami menyalami si tuan
rumah dengan menyampaikan maksud kami meneliti bagaimana respon masyarakat
tentang air galon kemasan di pulau Kodingareng. Terlihat pak anca sangat
tertarik dengan penelitian kami. Pertanyaan demi pertanyaan kami berikan,
beliau menjawab sesuai fokus penelitian kami. Keluarga pak Anca salah satu yang
memanfaatkan air galon sebagai suatu kebutuhan sehari-hari. Keluarga pak Anca
dulunya menggunakan air dari penampungan dekat rumah mereka untuk di konsumsi.
Penampungan air yang merupakan lokasi penelitian kita tadi yang tak jauh dari
rumah pak Anca. Sudah tiga tahun sudah pak Anca sekeluarga menggunakan air
galon kemasan semenjak tempat penampungan air tidak berfungsi lagi.
Selama
dirumah pak anca, kami bercerita banyak tentang keluh kesahnya tentang air galon kemasan yang selama ini beredar di
pulau Kodingareng. Menurut pak Anca air galon yang dulu berbeda dengan air
galon sekarang. Air galon dulu mempunyai label dan tissu pembersih sebaliknya
air galon sekarang yang mereka beli dianggap tidak berkualitas. Pak Anca juga
merasa air galon dulu tidak seperti sekarang. Dulu air galon tidak berkapur, diminum
terasa segar dan tidak berbau. Berbeda dengan air galon kemasan sekarang yang
berkapur, tidak mempunyai tissu pembersih dan terkadang mempunyai rasa logam.
Keluarga
pak Anca dihadapkan di situasi yang dilematis ketika memikirkan antara tetap
menggunakan air galon atau pindah alternatif mengkonsumsi air yang dimasak dari
sumur. Air galon dan air sumur apabila keduanya dimasak akan meninggalkan
banyak kerak berpasir di panci. Keluarga pak Anca mengganggap kedua – keduanya
tidak sehat untuk mereka konsumsi. Dengan semangat saudara pak Anca masuk ke
dalam rumah mengambil panci mereka dan menunjukkan panci yang didalamnya
menempel kerak kapur yang berasal dari air galon dan juga dari sumur, terlihat
tidak ada perbedaan dari keduanya.
Ketika
saya menanyakan arti kesehatan kepada pak Anca, beliau hanya mengatakan “yah seperti ini, ..toh kalau saya sakit gara
– gara mengkonsumsi air galon paling sakit perut biasa dan itu dapat
diselesaikan dengan obat sakit perut dan memanfaatkan konsultasi gratis tiap
pagi di puskeud ( Pusat Kesehatan Unit Desa ) dekat rumah”.
Beliau
terlihat sangat santai memandang hidup dengan bercanda pak Anca memberitahu
kami bahwa “wajarlah kalau orang – orang
disini kelihatannya tampak suram karena mungkin faktor itu tadi mereka menelan
kapur tiap hari”.
Tak
tahu itu
berpengaruh atau tidak tapi bercandaan beliau membuat perbincangan kami
terasa
hangat.
2. Di dermaga Pulau Kodingareng
Setelah
wawancara dengan pak Anca kembali saya, dewi, dan Angga berjalan melanjutkan observasi. Jam telah menujukkan
pukul 11.40 siang, kapal dari kota Makassar biasanya telah merapat di dermaga
pada siang hari sekitar jam 10.30 sampai 01.00. mengetahui hal itu kami segera
menuju dermaga. Dari kejauhan kapal
bertuliskan Sinar Jaya terlihat bersandar di dermaga membawa sekitar seratus
lebih air galon kemasan. Saya dan Dewi mencoba mendekati kapal yang bersandar
tersebut.
Ratusan
galon pun diturunkan oleh beberapa awak kapal satu – persatu. Terlihat galon
tidak mereka beli oleh satu tempat penjualan air galon kemasan. Air galon
kemasan yang mereka bawa ada yang bercat merah dia atasnya dan besegel ada pula
yang tak bersegel.
Saya
penasaran ada berapa galon yang dibawa tiap kapal tiap harinya. Saya coba
bertanya ke bapak yang ada disamping saya. Kebetulan saya melihat bapak
tersebut yang mengkomandoi seluruh awak kapal yang mengangkat galon.“pak ada
berapa galon yang bapak bawa tiap harinya” tanyaku kepada si bapak. “ada
sekitar seratus lebih nak, paling banyak 140 galon per hari” jawab si bapak
yang terlihat sibuk menghitung uang. Si
bapak kelihatannya sangat sibuk apabila saya terus menanyakan kebeliau tentang
galon-galon yang beliau bawa. Saya pun meninggalkan si bapak.
Melihat
– lihat disekitar mencari siapa yang akan saya jadikan informan. Terlihat
didepan saya dua ibu yang sedang menggelindingkan galon menuju ke ujung
dermaga. Ibu – ibu tersebut, keduanya
memakai kerudung coklat. Ibu pertama memakai memakai baju kaos merah marun
bercelana kain berwarna hitam. Dan ibu yang kedua memakai daster terusan dengan
corak batik berwarna biru tua. Saya mencoba mendekati salah satu dari mereka.
Ibu yang memakai kaos merah terlihat lebih ramah dibanding ibu yang memakai
batik. Kebetulan ibu yang saya pilih menjadi informan adalah ibu yang mempunyai
galon bersegel.
Air
galon kemasan yang bersegel terlihat lebih berkualitas dibandingkan air galon
kemasan yang tak mempunyai segel. Seperti punya ibu memakai batik yang
kebanyakan tak mempunyai segel. Demi
mempercepat dan meringankan kerja beliau sesekali saya membantu
menggelindingkan galon beliau menuju ujung dermaga. Mungkin dengan membantu
menggelindingkan galon, beliau tidak keberatan untuk saya tanya – tanya
nantinya.Air galon yang telah digelindingkan satu persatu telah dikumpulkan dan
telah tersusun rapi diujung dermaga. Tiba saatnya calon informan saya
beristirahat.
Sebelum
saya mencoba mendekat, saya menunggu ibu istirahat sejenak sambil meminum air
gelas kemasan yang barusan ia beli. Terlihat ibu mulai bernafas lega dengan
posisi duduk santai. Perlahan
saya memulai mendekati si ibu. Saya memulai pembicaraan dan menunggu situasi
yang tepat untuk menyampaikan maksud saya.
Awalnya saya membicarakan cuaca hari
ini, kondisi pulau, dan kemudiaan memperkenalkan diri. Setelah beberapa menit
saya berbicara, sayapun menyampaikan tujuan saya ke pulau ini. Dalam perbincangan kami saling
memperkenalkan diri. Beliau bernama bu Maryamah, usia 35 tahun beliau masih
lajang. Beliau terlihat tak keberatan berbincang lama dengan saya. Tanpa sadar
dalam perbincangan kami saya sekaligus mewawancarai beliau. Beliau tak merasa
keberatan karena kebetulan beliau sedang menunggu pembawa gerobak yang sedang
menjalankan ibadah sholat jumat.
Sesekali
beliau bercerita tentang kehidupan beliau. Bu maryamah sekarang tinggal dengan
kedua orang tuanya, saudara dan kakak ipar beliau. Bersama ayah beliau, bu
Maryamah baru merintis usaha galon di pulau Kodingareng sekitar 6 bulan yang
lalu. Menurut bu Maryamah, bapak merupakan
salah satu awak kapal Sinar Jaya milik H.Arhang. Beliau lah yang membawa air
galon kemasan dari kota ke pulau Kodingareng.
Banyaknya
permintaan air galon dari masyarakat di
pulau Kodingareng sebagai kebutuhan sehari-hari membuat ibu Maryamah sangat
tertarik membuat usaha ini. Penduduk dipulau ini ada sekitar 4 ribuan orang.
Penjual galon di pulau Kodingareng ada sekitar 10 orang lebih. Jatah tiap
penjual sekitar 20-30 galon tiap harinya. Menurut
ibu Maryamah, selang 2 jam air galon langsung ludes di beli oleh orang di
sekitar rumah beliau. Terkadang masih banyak tetangga beliau yang tidak
kebagiaan air galon.
Tidak
sulit bagi bu Maryamah menjual galon di pulau Kodingareng. Bu Maryamah punya
langganan sendiri. Apalagi langganan beliau kebanyakan tetangga beliau sendiri.
Bu Maryamah menjual air galon yang bersegel karena kebanyakan dari pelanggan
kurang percaya dengan air galon tanpa segel.
Bu
Maryamah bercerita kalau air galon yang mereka beli berasal dari pampang dekat
jalan tol. Air galon kemasan yang bu Maryamah beli bernama air minum “Wahyuni”.
Hari ini bu Maryamah mendapat jatah 28 galon. Tiap galon bu Maryamah mendapat
keuntungan Rp.2500. Keuntungan beliau di simpan selama sebulan. Hasil
keuntungan sebulan nantinya di bagi dua dengan ayah bu Maryamah.
Bu Maryamah adalah salah satu
informan yang paling baik menurut saya. Beliau malah tak keberatan saya
mewanwancarai beliau sampai ke rumah beliau. Saya dilayani layaknya keluarga
lama. Bu Maryamah sosok wanita pekerja keras.
Beliau sangat ingin jalan - jalan keluar dari pulau Kodingareng. Kesederhanaan
beliau menjadi kelebihan dimata saya. Jika diberi kesempatan untuk ke pulau Kodingareng
kembali, saya akan bersilatuhrahmi ke
rumah beliau.
3.
Puskeud
(Pusat Kesehatan Unit Desa)
Di hari terakhir kami ingin mencari
informan inti. Hari sudah senja, Kami berencana mencari informan dari pelayanan
kesehatan. Saya dan yang lain berencana mencari dokter dari puskeud. Informasi
yang kami dapat, pak dokter tinggal dikontrakan tak jauh dari kuburan. Alamat
dokter tidak begitu jelas. Kami berinsiatif untuk bertanya alamat lengkap pak
dokter ke salah satu orang di puskeud. Informasi yang kami dapat pak dokter ke
kota tadi pagi. Kebetulan yang memberi informasi adalah bu bidan setempat yang
juga notabene dari pelayanan kesehatan. Dokter tak ada, bidan pun jadi.
Bu bidan tersebut bernama bu Ria.
Selama wawancara saya terus menyapa beliau dengan sapaan kak. Beliau berumur 40
tahun, Perkiraan saya umur beliau berumur sekitar 25 sampai 30-an. Beliau
mengaku mempunyai dua anak yang sedang kuliah di Unhas. Satu di jurusan
Komunikasi yang satu lagi di jurusan Hukum.
Wajah beliau nampak lebih muda sampai kami menyapa dengan sapaan kakak.
Sebelumnya saya menyampaikan maksud
kami mencari informan dari pihak pelayanan kesehatan. Kami menjelaskan kalau
kami ingin meneliti tentang respon masyarakat pulau Kodingareng tentang air
galon. Bu Ria menanyakan kepada kami kenapa kita tertarik meneliti air galon.
Kami menjelaskan kalau banyak masyarakat di pulau Kodingareng mengeluhkan sakit
perut. Menurut beberapa informan, selama mengkonsumsi air galon terkadang
mereka menemukan ulat kecil dan zat kapur di air galon.
Bu Ria terlihat tak heran kalau ada
kasus seperti itu karena selama ini di pulau Kodingareng, masyarakat banyak
mengeluh sakit perut. Mungkin saat ini masyarakat cuma mengeluh sakit perut
karena air galon baru beredar selama 3 tahun. mengkonsumsi air galon dalam
jangka panjang bisa mengakibatkan kencing batu dan gagal ginjal.
Sekitar dua minggu yang lalu bu Ria
pernah melakukan uji sampel air galon di pulau Kodingareng. Hasilnya cukup
mencemaskan karena dalam air galon terdapat ± 200 e-coli (escherichaia coli)
sejenis bakteri yang menjangkit di dalam perut.
Langganan:
Postingan (Atom)














