Senin, 20 Juni 2011

field note pertama ^^

LAPORAN PENELITIAN (FIELD NOTE)
PANDANGAN MASYARAKAT PULAU KODINGARENG TERHADAP PEMANFAATAN AIR GALON
PENDAHULUAN
Awal keberangkatan,
Pagi menjelang siang saya tiba di dermaga kayu bangkoa pukul 09.11 saya mengira, saya akan telat karena telah diberitahukan harus berada di dermaga pukul 9 pagi. Insiden kesasar bersama tukang ojek pagi itu membuat saya panik. Sesampai di dermaga dengan perasaan panik yang belum reda, terlihat rombongan masih duduk santai. “ah.. syukur alhamdulillah” ucapku didalam hati
            Kami semua menunggu sampai semua barang dinaikkan di kapal. Terlihat ada sekitar  4  kapal yang bersandar di dermaga. Dermaga kelihatan begitu ramai, tampak lalu lalang pria – pria pendorong gerobak membawa air galon kemasan dan beberapa barang berkardus. Sembari menunggu kapal akan berangkat, beberapa orang dari rombongan kami duduk di pinggir jalan terlihat gaduh. Tumpahan air galon mengenai mereka. Untungnya tumpahan galon tak sampai mengenai barang – barang kami.
Sekitar satu jam kami menunggu kapal, kapal tak kunjung berangkat. Kapal belum berangkat perasaan sudah terasa ingin mual. Selang beberapa menit kamipun dipersilahkan untuk naik ke kapal. Tapi, tak lama kemudian kami disuruh untuk turun lagi dari kapal. Kami melupakan sesuatu yang penting. Kami melupakan ritual yang sering kami lakukan sebelum berangkat.
Bersama-sama kami membaca doa yang dipimpin oleh kak Yuli. Setelah berdoa kami semua para peserta diharapkan selama di pulau mendengarkan semua apa yang dikatakan panitia. Dengan semangat kami kami siap berangkat. Doa sering kali mengubah suasana hati. Tadinya perasaan tidak nyaman, rasa ingin mual dan sakit kepala jadi hilang.
Pukul 11.15 kapal kami berangkat meninggalkan dermaga. Kapal kami diapit oleh dua kapal, kapal sebelah kanan tak jauh beda dengan kapal yang kami tumpangi. Kapal sebelah kanan ditumpangi oleh beberapa penumpang dan mengangkut banyak air galon kemasan. Sedangkan kapal sebelah kiri juga ditumpangi oleh beberapa penumpang. Kapal sebelah kiri terlihat lebih menarik perhatian. Kapal sebelah kiri mengangkut beberapa motor baru. 2 motor bebek dan 1 motor matic.
Pukul 11.45 kapal telah berada di tengah laut. Di tengah laut mulai terasa panas di bawah paparan matahari yang cukup terik.  Sepanjang perjalan mata saya terasa dimanjakan oleh pemandangan laut yang biru. Ditiup angin laut yang cukup meredakan rasa panas di kulit saya. Saya sangat menikmati perjalanan ini. Dimana beberapa teman yang lain larut dengan mimpi masing – masing.    
             Selang beberapa menit berlalu, pulau Samalona terlihat di sebelah kanan kapal kami. Dari kejauhan pulau Kodingareng juga sudah menampakkan diri di hadapan kami.  “teman – teman  mau mi sampai!!” teriakku.
“hooaaaaaaaaaaaam” serentak mereka menguap dengan mata sayuh dan bekaca-kaca.
Sekitar hampir pukul 1 siang kami sampai ke pulau kodingareng. Inilah tempat yang kami tunggu – tunggu. Lokasi penelitian peserta LDP-LPMA 2010. Pulau kodingareng nampak begitu luas jauh dari perkiraan saya. Ini kali kedua kami angkatan 2010 melakukan penelitian. Sebelumnya kami pernah ke Puntondo kab.Takalar melakukan penelitian tentang nelayan rumput laut.
Sesampainya di pulau ini, saya berharap bisa belajar banyak. Belajar tentang penelitian, belajar memahami situasi, berhadapan dengan orang baru, diterima oleh masyarakat setempat dan lain – lain.
            Sesampainya dipulau Kodingareng di tuntun ke tempat paenginapan kami masing – masing. Kelompok 1 & 2  menginap di rumah tante Bimbing dan kelompok 3 & 4 menginap di rumah bu Erna. Setelah menyimpan barang – barang dan istirahat sejenak.  Pukul 03.20 saya, dewi, furqan, angga dan kelompok lain kumpul di aula PKK untuk melakukan penyuluhan observasi pertama. Sesampainya disana terlihat ketua himpunan dan ketua LDP-LPMA memulai penyuluhan. Penyuluhan tidak berlangsung lama. Selang penyuluhan terdengar dari jauh suara adzan berkumandang. Kelompok kami berinisiatif untuk memulai observasi setelah beberapa peserta menunaikan sholat ashar.
            Perjalanan observasi dimulai. Kami mulai berjalan bersama – sama dengan peserta lain. Perjalanan kami awali dengan senyuman, menyapa dan melihat –lihat dengan seksama apa yang menarik selama perjalanan.
Selama observasi pengenalan lokasi, kami menyadari bukan hanya kami yang melakukan observasi ke masyarakat tapi masyarakat juga melakukan observasi kepada kami.  Beberapa dari mereka menatap dengan sinis dan tak kurang menatap kami dengan hangat dan senyum lebar tampak di bibir mereka.
Sepanjang perjalanan saya melihat banyak pedagang keliling dan pedagang asongan yang rata-rata dilakukan oleh kaum ibu ditemani anak – anak mereka.  Ada pedagang somay, kosmetik, sayuran, panci, kue – kue tradisional, bakso dll.
Terlihat masyarakat sudah paham akan tugas masing – masing. Sementara para suami pergi mencari ikan sebagai nelayan. Para istri mencari uang tambahan dengan berjualan keliling dan asongan. Sore hari sepulang sekolah, para anak membantu ibu mereka berjualan.
Kebanyakan jualan yang ditawarkan diperuntukkan  untuk anak – anak. Yang pada dasarnya senang belanja. Sistem jual – beli yang mereka tawarkan rata – rata secara kredit.  Kembali kami melanjutkan perjalanan kami melihat ada sekitar 10 lebih rumah yang menjual air galon kemasan. Masyarakat pulau Kodingareng sepertinya rata – rata mengkonsumsi air minum dari air galon karena terlihat banyaknya masyarakat yang menjual produk tersebut.
Saya jadi teringat cerita teman – teman saya sebelum kami berangkat ke pulau ini. Di dermaga sempat terjadi insiden air galon tumpah mengenai beberapa peserta. Beberapa dari kami melihat air yang tumpah diisi kembali dengan air dari jerigen kemudian mereka tutup kembali dengan penutup yang baru. Melihat itu kami menjadi ragu akan kebersihan air galon tersebut.
Sepanjang perjalanan saya melewati beberapa mesjid. Yang menarik dari perhatian saya adalah salah satu mesjid bercat hijau yang berdiri kokoh cukup besar dibanding bangunan lainnya. Unsur religi sejenak terbesit di pikiran saya untuk menjadi salah satu penelitian. Tempat ibadah yang cukup banyak dan adanya kegiatan agama di sore hari tampak membuat masyarakat lebih terlihat religious dengan gaya berpakaian masyarakat di sekitar mesjid.
Di tengah perjalanan kami terpisah dengan kelompok lain. Saya, Dewi, Angga dan Furqan bersama – sama melanjutkan perjalanan. Diperjalanan kami melihat banyak kebiasaan masyarakat yang kebanyakan telah tersentuh oleh modernisasi. Disana kami melihat ada sekitar 3 tempat penyewaan game PS, beberapa rumah menempelkan sound system di tiap sisi rumah mereka, dan terakhir terdapat tempat penyewaan bilyard.
Di perjalanan saya dan yang lain merasa berjalanan sudah cukup jauh. Kami pun mencari tempat istirahat untuk mengumpulkan cerita masing, apa yang menarik selama pengamatan. Setelah berembuk kami berinisiatif untuk kembali ke rumah.
Saya dan yang lain sudah hampir sampai ke rumah, jalan kami beralih oleh teguran seorang bapak tua. Beliau bertanya “ kalian mahasiswa dari mana??”
Kami menjawab “kami dari mahasiswa unhas pak!” .
            Kami sebenarnya sangat ingin kembali pulang ke rumah tapi kelihatannya bapak tersebut bisa kami manfaatkan sebagai informan pertama. Beliau bernama pak Jaka. Menurut beliau usianya sekitar 65 tahun. Harapan saya dan yang lain perbincangan kami nantinya mendukung data – data yang kami cari. Beliau sangat senang jika ada mahasiswa berkunjung kepulau Kodingareng.  Beliau bercerita banyak tentang pulau Kodingareng. Sejarah pulau kodingareng mulai dari jaman jepang, belanda dan tentang Kahar Muzakkar. Waktu beliau berumur 15 tahun pulau pertama bernama Pa’diktikang kemudian pulau Harapan, pulau Perjuangan dan terakhir pulau Kodingareng.
            Rasa nasionalisme beliau sangat terlihat ketika menceritakan tentang semua yang terjadi di masa lalu. Singgah berbincang dengan beliau adalah kesalahan terbesar bagi kami karena kami kesulitan untuk pamit pulang. Furqan terlihat lebih pintar melihat situasi. Pak jaka terdiam sejenak, furqan langsung berdiri dan mohon pamit pulang. Satu persatu dari kami menyalami tangan beliau. Dan akhirnya kami pun pulang.
            Sesampainya kami di rumah, kami langsung istirahat. Secara bergantian kami masuk kamar mandi membersihkan diri. Setelah kami mandi, tak lama ibu disebelah rumah memanggil kami untuk makan malam. Rasa capek terasa jadi hilang setelah mandi apalagi kami langsung disuguhkan makan malam.
Setelah makan malam kami dipanggil oleh panitia untuk berkumpul kembali ke aula. Kami harus menentukan tema apa yang akan kami angkat jadi peneletian. Ada banyak topik dipikiran saya selama observasi tadi di pulau Kodingareng, mulai dari unsur religi, ekonomi-mata pencaharian dan organisasi sosial. Malam ini kami memutuskan untuk meneliti tentang air galon namun kami masih bingung penelitian air galon kami membahas tentang kesehatannya atau ekonominya.
Malam begitu larut, panitia belum juga selesai memberi kami penyuluhan. Peserta kelihatan sangat ngantuk, terlihat tidak fokus dengan apa yang dipaparkan panitia.  Raga kami di aula tapi pikiran kami di rumah dan tempat tidur.  Tema air galon keluar dari mulut kami dengan keadaan setengah sadar. Kami harap tema malam ini tidak asal – asalan karena kami ingin cepat – cepat pulang. 


HAMBATAN
            Ini pengalaman pertama saya melakukan penelitian dengan bimbingan dan pedoman – pedoman dasar yang cukup matang. Cukup banyak hambatan selama berada di pulau ini. Observasi pertama saya sangat bingung untuk mencari kasus yang menarik. Menyatukan ide – ide dalam kelompok,  bagaimana cara diterima baik oleh masyarakat dan bagaimana bertanya dengan baik tanpa menyinggung perasaan masyarakat. Semua yang dipikiran saya adalah bagaimana, bagaimana dan bagaimana. Ini hambatan awal saya, tidak bisa mengendalikan pikiran sendiri.
            Hambatan selama penelitian ketika mewawancarai informan yang berusia sekitar 60 keatas. Informan tidak fokus dengan apa yang kita sampaikan. Sebagai contoh informan bernama Bu Syahria, saya bertanya kepada beliau “bu, selama mengkonsumsi air galon tidak ada ji keluhan?”. Ibu Syahria menjawab “tidak ada ji nak tapi begitu mi kadang sakit lutut dan persendianku. Kembali saya bertanya “gara – gara air galon itu bu?”. “tidak” jawab si ibu. Ini saya jadikan pengalaman berharga dalam penelitian untuk tidak akan mewawancarai informan yang sudah sangat berumur.
            Yang juga menjadi hambatan ketika saya mewawancarai penjual air galon kemasan. Seperti informan saya bu Maryamah dan bu Darmi. Kami membutuhkan informasi yang jujur dari informan. Kedua informan saya ini menceritakan semua hal – hal yang baik tentang air galon walaupun secara langsung salah satu dari mereka membocorkan kalau terkadang mereka membeli air leden dari kota kemudian mereka masak untuk di konsumsi sehari –hari. Selama wawancara beliau memberikan saya informasi yang cukup mengaambang.
            Hambatan berikutnya, salah satu informan yaitu bu Ria seorang bidan di pulau ini menjanjikan hasil uji sampel beliau tentang air galon di pulau Kodingareng tetapi sampai sekarang beliau tak menghubungi kami. Uji sampel beliau bisa menjadi bukti pendukung untuk memperkuat penelitian kami.
             Komunikasi yang kurang diantara kelompok kami juga salah satu hambatan selama penelitian. Sehingga terjadi konflik – konflik kencil dalam kelompok kami. Saya dan teman yang lain masih sangat baru dalam hal penelitian jadi kami harap setelah penelitian ini kami bisa belajar banyak dan tak canggung menghadapi penelitian berikutnya.

SIMPULAN – SIMPULAN SEMENTARA
Air galon kemasan sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari- hari. Air dari sumur menurut informan tidak cukup nikmat untuk dikonsumsi. Sejak 3 tahun lalu masyarakat beralih ke air galon. Air galon berasal dari kota Makassar yang kabersihannya sangat meragukan. Air galon yang dijual di dermaga harganya sangatlah murah. Air galon yang di kota dijual seharga Rp.2500. Sedangkan yang di kota biasanya dijual seharga Rp.3000 - Rp.4000 per galon. Menurut salah satu informan, galon kosong yang dari pulau tidak ditukar dengan galon yang baru. Galon langsung diisi di dermaga dari air jergen yang telah disiapkan. Informan ragu akan kebersihan galon dari dermaga Kayu Bangkoa.
Hasil pengamatan saya cukup mendukung keraguan informan, hari pertama kami makan bersama disamping rumah bu Erna. Air minum digelas yang saya minum terdapat cacing kecil berwarna putih. Air yang mereka suguhkan memang berasal dari air galon. Tadinya saya ragu dengan apa yang saya lihat tapi di gelas dewi juga seperti itu.
Selama observasi masyarakat pada umumnya mereka mengetahui hal itu. Masyarakat kenyataannya hanya memikirkan ekonomisnya bukan manfaat dan dampaknya kelak. Sakit perut dianggap sebagai angin lalu, sakit perut dianggap suatu hal yang biasa.
Pihak puskeud terkadang memberikan penyuluhan akan pentingnya memasak air terlebih dahulu tapi masyarakat tidak ingin repot untuk memasaknya lagi. Masyarakat percaya air galon tidak akan menimbulkan penyakit yang parah bagi tubuh mereka.

LAPORAN PENELITIAN (FIELD NOTE) SAAT MELAKUKAN PENGAMATAN:
PANDANGAN MASYARAKAT PULAU KODINGARENG TERHADAP PEMANFAATAN AIR GALON
LAMPIRAN
Hari kamis hari ke – 2 penelitian di Pulau Kodingareng, kami ( Furqan, Angga,  Dewi dan saya) mencoba mencari informan yang berhubungan dengan air  galon. Kami harap informan pertama kami adalah penjual air galon. Kami sepakat sebisa mungkin kami mencari informasi bersama – sama. Kami punya tugas masing – masing dalam tiap observasi kami. Hari ini kami sebenarnya belum yakin dengan pengamatan ini. Kami belum menetukan judul yang tepat untuk pengamatan ini. Tapi, hal tersebut tak lantas membuat kami putus asa. Pengamatan tentang air galon di pulau Kodingareng tetap kami coba. Sebisa mungkin saya dan lain mencoba mencari informasi yang banyak sebelum kami bertemu dengan instruktur kami.
Pengamatan kami mulai di sekitar penginapan kami. Tak jauh dari Rumah bu Erna ( tuan rumah tempat tinggal kelompok 3 & 4 ) kami menemukan salah satu rumah yang depan rumahnya di penuhi beberapa galon kosong. Kami mendekat kerumah tersebut tapi tak  tak seorang pun terlihat di dalam rumah. Dari pada menunggu, kami pergi cari  informasi dimana keberadaan tuan rumah. Kami mendapat informasi kalau tuan rumah  dari tadi meninggalkan rumah. Masyarakat sekitar terlihat  sangat biasa membuka pintu ketika mereka berpergian sejenak dari rumah. Tingkat kriminal di pulau ini mungkin sangat jarang.
            Tak lama kemudian kami kembali ke rumah yang tadi. Langkah kami sedikit terhambat mana kala seorang anak kecil buang air besar depan pintu calon informan. Seorang ibu memakai sarung menghampiri kami dan mengaku kalau beliau adalah tuan rumah yang kami cari. Kami dipersilahkan masuk di rumah beliau. Dengan menahan napas kami buru-buru masuk ke rumah beliau. Didalam kami berkenalan terlebih dahulu, beliau bernama bu Darmi salah seorang penjual galon. Beliau masih lajang yang sekarang tinggal bersama ayahnya. Dulunya ibu bu Darmi tinggal bersama mereka tapi sekitar 2 atau 1 tahun yang lalu memutuskan untuk tinggal di kota.
            Bu Darmi bisa kita bilang sebagai informan pertama kami. Selama wawancara kami tak berbicara banyak. Kami mewancarai tanpa fokus penelitian apa yang kami bawa tapi intinya tentang air galon. Setelah mewawancarai bu Darmi kami sepakat untuk tidak mencari informan sebelum kami bertemu instruktur kami. Kami belum tau siapa instruktur kami. Kami harap instruktur kami nantinya membantu menentukan fokus penelitian yang cocok buat kami.
Kami berjalan menuju penginapan, furqan memutuskan untuk istirahat di kamar. saya, dewi dan angga istirahat minum minuman dingin di penjual depan penginapan. Sambil minum kami berbincang – bincang dengan ibu penjual minuman. Kami menanyakan tentang asal – usul air galon sampai ke pulau Kodingareng.  Kebanyakan masyarakat disini mongkonsumsi air apa?. Berapa banyak penjual galon di pulau ini? Dan banyak lagi hal – hal mengenai air galon. Sambil menunggu jam makan siang kami sengaja berlama – lama dulu di tempat ini. Tempat ini terasa sejuk dibanding istirahat di rumah. Menjelang siang tempat penginapan kami udaranya terasa panas.
Tiba saatnya makan siang, kami makan dengan lahap. Kemarin panitia menjanjikan kalau setelah makan siang tiap kelompok akan dibagikan instruktur. Makan sudah selesai kami masuk ke penginapan mengambil perlengkapan. Bersama – sama kelompok 3 (indah, soejana, ricta, dadank dan ian) kami berjalan menuju aula. Disana sudah ada panitia menunggu kami. Kak Yudhi dan kak Padly ditunjuk jadi instruktur kami. Kami dipersilahkan ke instruktur masing segera membahas tentang penelitian kami. Di teras kami melihat ada kedua instruktur kami sedang duduk bersama dengan bersama senior yang lain. Kami menunggu mereka sampai selesai bercerita denagn yang lain. Tak lama mereka menghampiri dan mengajak kami diskusi di tempat yang menuurut kami nyaman. Di aula tempat yang nyaman untuk kami berdiskusi. Di Aula kami berembuk judul apa kira – kira yang cocok. Kita berdiskusi banyak fokus kami mau ke kesehatan atau ekonominya. pendapat demi pendapat keluar dari mulut kami. “Menurut saya, menurut saya, menurut saya, menurut saya” kata yang sering keluar dalam diskusi ini. Sampai akhirnya dengan tegas kak Yudhi menentukan kalau judul yang cocok adalah “Persepsi  atau Pandangan Masyarakat Pulau Kodingareng Terhadap Pemanfaatan Air GAlon”. 

OBSERVASI PERTAMA ( KAMIS, 21 JULI 2011)
Sore hari setelah mendapat instruksi dari kak Yudi dan kak Padly kami segera mencari informan. Dewi dan saya ke sebelah timur sedangkan Furqan dan Angga mencari informan di sebelah barat.  Dewi dan saya coba mencari informan yang tinggal di sekitar pesisir pantai. Di hari pertama saya di Pulau Kodingareng saya diberitahu oleh Bu Erna kalau masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir mempunyai sumber air (sumur) yang payau. Masyarakat sekitar pesisir kemungkinan besar pengguna air galon. Saya berharap informan yang saya temui bisa memberikan informasi yang cukup menunjang. Di perjalanan saya terhenti, terlihat di sebelah kanan ada seorang ibu tua yang sedang duduk santai di depan rumahnya. Tanpa ragu saya mendekati beliau dan menyapa dengan lembut “ bu apa kabar? Boleh saya cerita – cerita sebentar?”. Bukannya beliau menjawab pertanyaan saya tapi beliau malah mengucapkan “ nak, saya sendiri, sudah lamami meninggal suamiku” jawab si Ibu dengan raut muka yang terlihat sedih. Saya melihat mata ibu yang sedikit berkaca. Saya sedikit tidak mengerti dengan ucapan beliau. Ibu tersebut bernama Bu Syahria, menurut beliau umurnya 65 tahun  tapi yang saya lihat beliau berumur 70-an. Bu Syahria sangat mencintai alm. suami     
OBSERVASI KEDUA ( JUMAT, 22 JULI 2011)
1.    Di teras rumah pak Anca :
Pukul 09.30 saya, dewi,furqan dan angga memulai observasi di tempat yang kemarin sudah kami rencanakan yaitu tempat penampungan air bersih yang dulunya dimanfaatkan oleh masyarakat pulau kodingareng sebagai pusat air bersih. Beberapa tahun lalu masyarakat sekitar mengkonsumsi langsung air tersebut tanpa memasak terlebih dahulu. Salah satu dari informan mengatakan, konon dulu penampungan ini pernah diteliti oleh salah satu dokter dari RS Plamonia Makassar yang diutus dari Pemerintah. Dari hasil penelitian menujukkan bahwa air layak di konsumsi bahkan bisa diminum langsung karena terdapat kandungan mineral didalam air tersebut. Masyarakat pulau kodingareng membeli air tersebut Rp. 3.000 per jerigen. Awalnya saya mengira tempat penampungan air adalah tempat satu-satunya tempat penjualan air galon di pulau Kodingareng dimana disana dilengkapi dengan  mesin air galon kemasan yang kebanyakan terdapat dikota Makassar. Tapi setelah saya dan teman – teman yang lain ke lokasi tersebut, kami hanya melihat sebuah bangunan kecil yang disampingnya terdapat 2 buah tangki air yang besar berwarna biru dan satu sumur yang tiap harinya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.
Terlihat disana beberapa ibu-ibu berkumpul disekitar sumur sedang mencuci pakaian. Saya mencoba mendekati salah seorang ibu yang sedang menimba air ditengah teriknya matahari dengan muka yang penuh dengan keringat. Mencoba mengaplikasikan keajaiban senyuman di depan ibu, Senyuman yang lebar dan menyapa beliau dengan lembut, harapan saya dapat menyenangkan hati ibu yang nantinya dengan leluasa memberikan banyak informasi buat saya.  Dalam observasi hal – hal kecil jadi saya abaikan demi mendapatkan data tanpa memperhatikan kondisi informan. Kenyataannya Si ibu menjawab pertanyaan – pertanyaan dengan setengah hati. Menyadari hal tersebut saya dan teman segera pamit dan meninggalkan lokasi.
Tanpa patah arah saya, dewi dan angga melanjutkan observasi kami. Sekitar 5 rumah kami lewati tak jauh dari lokasi yang tadi. Kami bertemu dengan dengan ibu berpakaian daster batik beserta jilbab coklat muda menutupi kepalanya dengan ditemani seorang pria berpakaian sepakbola nasional berwarna merah. Dengan ramah mereka mengajak kami singgah duduk di halaman rumah mereka.
Hati yang begitu senang tanpa ragu kami memperkenalkan diri. Pria tersebut bernama Pak Anca beliau berumur 36 tahun. Satu persatu dari kami menyalami si tuan rumah dengan menyampaikan maksud kami meneliti bagaimana respon masyarakat tentang air galon kemasan di pulau Kodingareng. Terlihat pak anca sangat tertarik dengan penelitian kami. Pertanyaan demi pertanyaan kami berikan, beliau menjawab sesuai fokus penelitian kami. Keluarga pak Anca salah satu yang memanfaatkan air galon sebagai suatu kebutuhan sehari-hari. Keluarga pak Anca dulunya menggunakan air dari penampungan dekat rumah mereka untuk di konsumsi. Penampungan air yang merupakan lokasi penelitian kita tadi yang tak jauh dari rumah pak Anca. Sudah tiga tahun sudah pak Anca sekeluarga menggunakan air galon kemasan semenjak tempat penampungan air tidak berfungsi lagi.
Selama dirumah pak anca, kami bercerita banyak tentang keluh kesahnya tentang air  galon kemasan yang selama ini beredar di pulau Kodingareng. Menurut pak Anca air galon yang dulu berbeda dengan air galon sekarang. Air galon dulu mempunyai label dan tissu pembersih sebaliknya air galon sekarang yang mereka beli dianggap tidak berkualitas. Pak Anca juga merasa air galon dulu tidak seperti sekarang. Dulu air galon tidak berkapur, diminum terasa segar dan tidak berbau. Berbeda dengan air galon kemasan sekarang yang berkapur, tidak mempunyai tissu pembersih dan terkadang mempunyai rasa logam.
Keluarga pak Anca dihadapkan di situasi yang dilematis ketika memikirkan antara tetap menggunakan air galon atau pindah alternatif mengkonsumsi air yang dimasak dari sumur. Air galon dan air sumur apabila keduanya dimasak akan meninggalkan banyak kerak berpasir di panci. Keluarga pak Anca mengganggap kedua – keduanya tidak sehat untuk mereka konsumsi. Dengan semangat saudara pak Anca masuk ke dalam rumah mengambil panci mereka dan menunjukkan panci yang didalamnya menempel kerak kapur yang berasal dari air galon dan juga dari sumur, terlihat tidak ada perbedaan dari keduanya.
Ketika saya menanyakan arti kesehatan kepada pak Anca, beliau hanya mengatakan  “yah seperti ini, ..toh kalau saya sakit gara – gara mengkonsumsi air galon paling sakit perut biasa dan itu dapat diselesaikan dengan obat sakit perut dan memanfaatkan konsultasi gratis tiap pagi di puskeud ( Pusat Kesehatan Unit Desa ) dekat rumah”.
Beliau terlihat sangat santai memandang hidup dengan bercanda pak Anca memberitahu kami bahwa  “wajarlah kalau orang – orang disini kelihatannya tampak suram karena mungkin faktor itu tadi mereka menelan kapur tiap hari”.
Tak tahu itu berpengaruh atau tidak tapi bercandaan beliau membuat perbincangan kami
terasa hangat.
2.    Di dermaga Pulau Kodingareng
Setelah wawancara dengan pak Anca kembali saya, dewi, dan Angga berjalan melanjutkan observasi. Jam telah menujukkan pukul 11.40 siang, kapal dari kota Makassar biasanya telah merapat di dermaga pada siang hari sekitar jam 10.30 sampai 01.00. mengetahui hal itu kami segera menuju dermaga. Dari kejauhan kapal bertuliskan Sinar Jaya terlihat bersandar di dermaga membawa sekitar seratus lebih air galon kemasan. Saya dan Dewi mencoba mendekati kapal yang bersandar tersebut.
Ratusan galon pun diturunkan oleh beberapa awak kapal satu – persatu. Terlihat galon tidak mereka beli oleh satu tempat penjualan air galon kemasan. Air galon kemasan yang mereka bawa ada yang bercat merah dia atasnya dan besegel ada pula yang tak bersegel.
Saya penasaran ada berapa galon yang dibawa tiap kapal tiap harinya. Saya coba bertanya ke bapak yang ada disamping saya. Kebetulan saya melihat bapak tersebut yang mengkomandoi seluruh awak kapal yang mengangkat galon.“pak ada berapa galon yang bapak bawa tiap harinya” tanyaku kepada si bapak. “ada sekitar seratus lebih nak, paling banyak 140 galon per hari” jawab si bapak yang terlihat sibuk menghitung uang. Si bapak kelihatannya sangat sibuk apabila saya terus menanyakan kebeliau tentang galon-galon yang beliau bawa. Saya pun meninggalkan si bapak.
Melihat – lihat disekitar mencari siapa yang akan saya jadikan informan. Terlihat didepan saya dua ibu yang sedang menggelindingkan galon menuju ke ujung dermaga.   Ibu – ibu tersebut, keduanya memakai kerudung coklat. Ibu pertama memakai memakai baju kaos merah marun bercelana kain berwarna hitam. Dan ibu yang kedua memakai daster terusan dengan corak batik berwarna biru tua. Saya mencoba mendekati salah satu dari mereka. Ibu yang memakai kaos merah terlihat lebih ramah dibanding ibu yang memakai batik. Kebetulan ibu yang saya pilih menjadi informan adalah ibu yang mempunyai galon bersegel.
Air galon kemasan yang bersegel terlihat lebih berkualitas dibandingkan air galon kemasan yang tak mempunyai segel. Seperti punya ibu memakai batik yang kebanyakan tak mempunyai segel. Demi mempercepat dan meringankan kerja beliau sesekali saya membantu menggelindingkan galon beliau menuju ujung dermaga. Mungkin dengan membantu menggelindingkan galon, beliau tidak keberatan untuk saya tanya – tanya nantinya.Air galon yang telah digelindingkan satu persatu telah dikumpulkan dan telah tersusun rapi diujung dermaga. Tiba saatnya calon informan saya beristirahat.
Sebelum saya mencoba mendekat, saya menunggu ibu istirahat sejenak sambil meminum air gelas kemasan yang barusan ia beli. Terlihat ibu mulai bernafas lega dengan posisi duduk santai. Perlahan saya memulai mendekati si ibu. Saya memulai pembicaraan dan menunggu situasi yang tepat untuk menyampaikan maksud saya.
Awalnya saya membicarakan cuaca hari ini, kondisi pulau, dan kemudiaan memperkenalkan diri. Setelah beberapa menit saya berbicara, sayapun menyampaikan tujuan saya ke pulau ini. Dalam perbincangan kami saling memperkenalkan diri. Beliau bernama bu Maryamah, usia 35 tahun beliau masih lajang. Beliau terlihat tak keberatan berbincang lama dengan saya. Tanpa sadar dalam perbincangan kami saya sekaligus mewawancarai beliau. Beliau tak merasa keberatan karena kebetulan beliau sedang menunggu pembawa gerobak yang sedang menjalankan ibadah sholat jumat.
Sesekali beliau bercerita tentang kehidupan beliau. Bu maryamah sekarang tinggal dengan kedua orang tuanya, saudara dan kakak ipar beliau. Bersama ayah beliau, bu Maryamah baru merintis usaha galon di pulau Kodingareng sekitar 6 bulan yang lalu. Menurut bu Maryamah, bapak merupakan salah satu awak kapal Sinar Jaya milik H.Arhang. Beliau lah yang membawa air galon kemasan dari kota ke pulau Kodingareng.
Banyaknya permintaan air galon dari  masyarakat di pulau Kodingareng sebagai kebutuhan sehari-hari membuat ibu Maryamah sangat tertarik membuat usaha ini. Penduduk dipulau ini ada sekitar 4 ribuan orang. Penjual galon di pulau Kodingareng ada sekitar 10 orang lebih. Jatah tiap penjual sekitar 20-30 galon tiap harinya. Menurut ibu Maryamah, selang 2 jam air galon langsung ludes di beli oleh orang di sekitar rumah beliau. Terkadang masih banyak tetangga beliau yang tidak kebagiaan air galon.
Tidak sulit bagi bu Maryamah menjual galon di pulau Kodingareng. Bu Maryamah punya langganan sendiri. Apalagi langganan beliau kebanyakan tetangga beliau sendiri. Bu Maryamah menjual air galon yang bersegel karena kebanyakan dari pelanggan kurang percaya dengan air galon tanpa segel.  
Bu Maryamah bercerita kalau air galon yang mereka beli berasal dari pampang dekat jalan tol. Air galon kemasan yang bu Maryamah beli bernama air minum “Wahyuni”. Hari ini bu Maryamah mendapat jatah 28 galon. Tiap galon bu Maryamah mendapat keuntungan Rp.2500. Keuntungan beliau di simpan selama sebulan. Hasil keuntungan sebulan nantinya di bagi dua dengan ayah bu Maryamah.
            Bu Maryamah adalah salah satu informan yang paling baik menurut saya. Beliau malah tak keberatan saya mewanwancarai beliau sampai ke rumah beliau. Saya dilayani layaknya keluarga lama. Bu Maryamah sosok wanita pekerja keras. Beliau sangat ingin jalan - jalan keluar dari pulau Kodingareng. Kesederhanaan beliau menjadi kelebihan dimata saya. Jika diberi kesempatan untuk ke pulau Kodingareng kembali, saya akan  bersilatuhrahmi ke rumah beliau.
  3.      Puskeud (Pusat Kesehatan Unit Desa)
            Di hari terakhir kami ingin mencari informan inti. Hari sudah senja, Kami berencana mencari informan dari pelayanan kesehatan. Saya dan yang lain berencana mencari dokter dari puskeud. Informasi yang kami dapat, pak dokter tinggal dikontrakan tak jauh dari kuburan. Alamat dokter tidak begitu jelas. Kami berinsiatif untuk bertanya alamat lengkap pak dokter ke salah satu orang di puskeud. Informasi yang kami dapat pak dokter ke kota tadi pagi. Kebetulan yang memberi informasi adalah bu bidan setempat yang juga notabene dari pelayanan kesehatan. Dokter tak ada, bidan pun jadi.
            Bu bidan tersebut bernama bu Ria. Selama wawancara saya terus menyapa beliau dengan sapaan kak. Beliau berumur 40 tahun, Perkiraan saya umur beliau berumur sekitar 25 sampai 30-an. Beliau mengaku mempunyai dua anak yang sedang kuliah di Unhas. Satu di jurusan Komunikasi yang satu lagi di jurusan Hukum.  Wajah beliau nampak lebih muda sampai kami menyapa dengan sapaan kakak.
            Sebelumnya saya menyampaikan maksud kami mencari informan dari pihak pelayanan kesehatan. Kami menjelaskan kalau kami ingin meneliti tentang respon masyarakat pulau Kodingareng tentang air galon. Bu Ria menanyakan kepada kami kenapa kita tertarik meneliti air galon. Kami menjelaskan kalau banyak masyarakat di pulau Kodingareng mengeluhkan sakit perut. Menurut beberapa informan, selama mengkonsumsi air galon terkadang mereka menemukan ulat kecil dan zat kapur di air galon.
            Bu Ria terlihat tak heran kalau ada kasus seperti itu karena selama ini di pulau Kodingareng, masyarakat banyak mengeluh sakit perut. Mungkin saat ini masyarakat cuma mengeluh sakit perut karena air galon baru beredar selama 3 tahun. mengkonsumsi air galon dalam jangka panjang bisa mengakibatkan kencing batu dan gagal ginjal. 
            Sekitar dua minggu yang lalu bu Ria pernah melakukan uji sampel air galon di pulau Kodingareng. Hasilnya cukup mencemaskan karena dalam air galon terdapat ± 200 e-coli (escherichaia coli) sejenis bakteri yang menjangkit di dalam perut.

           


1 komentar:

  1. Betting on esports at JCMH - Jammy Hub
    JCMH is a virtual sports 밀양 출장마사지 betting platform providing fans 구리 출장마사지 the opportunity to bet 오산 출장안마 on esports, including 안산 출장샵 pro 군산 출장안마 basketball, boxing, hockey,

    BalasHapus